Tuesday, December 10, 2013

STRATEGI PELAYANAN PEMUDA DALAM PERSPEKTIF OTONOMI DAERAH

Ir. Andry Harits Umboh, M.Si

Pendahuluan
Pemberdayaan (empowerment) diartikan sebagai upaya penguatan masyarakat dengan cara memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat agar menggali potensi diri dan berani bertindak memperbaiki kualitas hidupnya.  Dapat juga dinyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upaya menolong orang lain agar orang tersebut mampu menolong dirinya sendiri. Dalam arti yang lebih praktis,  pemberdayaan masyarakat adalah pengembangan kemampuan agar  dapat berdiri sendiri dan memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari..
Meneliti pengertian pemberdayaan masyarakat ini, bukankah pemberdayaan masyarakat adalah tugas GEREJA? Kristus memberi teladan bagi  kita untuk mengasihi orang lain seperti halnya kita mengasihi diri sendiri. Mengasihi orang lain implementasinya adalah menolong orang lain, atau memberdayakan orang lain.
Konsep Pemberdayaan Masyarakat menjadi skala prioritas dalam konsep pembangunan di era otonomi daerah, yaitu kebijakan pembangunan yang tumbuh dari tingkat akar rumput, grass root,  yaitu masyarakat (bottom up development policy), meskipun masih terdapat beberapa kebijakan yang “memang masih harus” secara top-down. 
Dalam konteks pemberdayaan masyarakat ini, kita berhadapan dengan oknum “yang memberdayakan” dan “yang diberdayakan”. Pertanyaan yang menarik adalah, MAMPUKAH PEMUDA GEREJA MENJADI “OKNUM YANG MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT?”.  Kita berharap semua bahwa Pemuda Gereja akan lebih dari mampu untuk menjadi insan-insan pemberdayaan masyarakat.

STRATEGI PELAYANAN PEMUDA GEREJA
Sebagai tulang punggung pemberdayaan masyarakat, Pemuda Gereja harus dibekali dengan strategi-strategi pelayanan yang jitu dalam melaksanakan pelayanan gereja.
Seorang Filsuf Cina memberikan rumus sederhana namun akurat bagi mereka-mereka yang mau tampil sebagai “yang memberdayakan”.  Rumus tersebut dikenal dengan sebutan Kredo Pemberdayaan Lao Tze : 
Datangi mereka....
Tinggal bersama mereka....
Belajar dari mereka...
Cintailah mereka....
Mulailah dari apa yang mereka ketahui...
Bangunlah dari apa yang mereka miliki …

Bila kita cermati, Kredo Pemberdayaan ini adalah intisari dari Strategi Pelayanan Gereja, yang mengedepankan prinsip-prinsip:
a.    Prinsip keberpihakkan
Banyak masyarakat berada di pinggir sistem pembangunan sehingga mereka kehilangan kesempatan dan peluang untuk merasakan hasil-hasil pembangunan. Terhadap kondisi tersebut, perlu ada upaya pemihakan (yang luhur), terutama dari anggota gereja yang kehidupannya telah mapan sehingga dapat tercipta suatu sistem masyarakat yang harmonis dengan kesenjangan yang semakin kecil.
b.    Prinsip penguatan masyarakat
Keberpihakan perlu dilanjutkan dengan upaya penguatan sehingga secara mandiri orang lain akan mampu memanfaatkan peluang-peluang di seputar kehidupan keseharian mereka.
c.    Prinsip saling menghargai perbedaan
Dalam proses pemberdayaan perlu dikedepankan prinsip menghargai perbedaan untuk menemukan jalan keluar terbaik. 
d.    Prinsip berkelanjutan
Kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah masyarakat tidaklah tetap, namun berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri, karenanya proses pemberdayaan masyarakat bukanlah suatu usaha yang sekali dilakukan saja kemudian selesai, namun merupakan kegiatan berlanjutan.
e.     Prinsip keterbukaan
Pemberdayaan masyarakat membutuhkan keterbukaan dan saling menerima antara “yang diberdayakan” dengan “yang meberdayakan”.  Dengan prinsip keterbukaan dapat dilakukan berbagai penyesuaian untuk kemajuan bersama.

Matriks berikut merupakan analisis potensi Pemuda Gereja (SWOT analysis) yang langsung maupun tidak langsung sangat berkait dengan peran Pemuda Gereja dalam melakukan pelayanan di      tengah jemaat.

Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Pemuda Gereja

Kekuatan (Strength)
A Usia Muda, bertenaga
A Penuh cita-cita
A Belum terkontaminasi politik (independent agent)
A Kapasitas membentuk jaringan sangat tinggi (“Spiderman” )
Kelemahan (Weakness)
A Mudah menjadi seperti..
A Kurang pengalaman
A Sering bertindak tanpa pertimbangan
A Cepat putus asa
A Lebih mengedepankan perasaan daripada rasio
Peluang (Opportunity)
A Rasa ingin tahu masih sangat tinggi
A Sangat cepat mengadopsi hal-hal baru
A Membentuk organisasi gereja dan kemasyarakatan/LSM
A Menciptakan wira usaha baru
A Motor pemberdayaan masyarakat
Ancaman (Threath)
A Minuman keras, obat-obatan, sex bebas
A Vandalisme, perkelahian
A Kawin di usia sangat muda
A Putus sekolah
A Jobless

Berdasarkan matriks SWOT tersebut, berikut ini dipaparkan “Tabel Strategi Pelayanan”, yang memaparkan strategi apa saja yang seyogianya dilakonkan oleh Pemuda Gereja dalam lapangan pelayanan, tidak hanya dalam gereja, namun juga di tengah-tengah masyarakat.

ASPEK
POLA / STRATEGI
KETERANGAN
Pemberdayaan Masyarakat
·   Tingkatkan kapasitas diri.
Bagi yang masih sekolah/ kuliah, jangan pernah berpikir untuk berhenti sekolah, tamatkan dirimu.
Bagi yang sudah tidak sekolah/kuliah, membaca dan belajar dari berbagai sumber akan sangat membantu
·   Tingkatkan intensitas pergaulan dan komunikasi dengan rakyat kecil (warga miskin).

·   Bila melihat ada masyarakat sedang mengerjakan sesuatu yang ternyata belum kita pahami, jangan malu untuk bertanya dan berusaha untuk memahaminya.
·   Jaga image sebagai Pemuda Kristen yang handal;

·   Berusaha untuk menjadi anggota, bahkan pelopor, organisasi peduli masyarakat, di tingkat desa atau dimana kita tinggal.
·   Selalu berusaha untuk menyusun khotbah dalam konteks “Yesus dan pemberdayaan masyarakat”.
·   Dengan kapasitas diri yang mantap, seorang Pemuda Gereja akan menjadi motor penggerak yang handal  bagi proses pemberdayaan masyarakat


·   Komunikasi dengan masyarakat akan membuat mereka merasa dipedulikan.

·   Pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses belajar bersama.


·   Penampilan akan membantu kita dalam proses menolong orang lain.
·   Organisasi akan menyatukan semua potensi individu sehingga daya dorong pemberdayaan menjadi lebih kuat.
·   Ingat! Seluruh aspek kehidupan Kristus merupakan buku panduan pemberdayaan masyarakat.
Perencanaan Pembangunan
·   Berusaha mencari informasi dan turut serta dalam rapat-rapat perencanaan pembangunan di mana kita tinggal.
·   Ajak teman-teman untuk menghadiri rapat.
·   Bila turut serta dalam rapat-rapat, berusaha untuk memberikan masukan atau ide sesuai konteks pembicaraan.
·   Dokumentasikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat sebagai bahan usulan perencanaan pembangunan.
·   Perencanaan pembangunan adalah salah satu aspek pelayanan gereja.
·   Sistem perencanaan pembangunan mutlak dimulai dari desa.
·   Biasanya rapat-rapat perencanaan pembangunan bersifat terbuka untuk umum.

Kontrol/Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan dan pembangunan
·   Berusaha melakukan pengawasan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di mana kita tinggal.
·   Bila ternyata ada penyimpangan, lakukan kritik/protes, namun diupayakan secara sopan sebagai pemuda gereja.
·   Kritik/protes diupayakan disertai alasan-alasan, kalau perlu bukti, dan usahakan menyertakan saran solusi atau jalan keluarnya.
·   Kritik/protes sebaiknya terbatas dulu di tingkatan terbatas, misalnya bila kita mengkritik Hukum Tua melalui surat resmi, tembusan surat tersebut sebatas dulu sampai ke BPD, jangan dulu melebar hingga ke camat atau bupati. 
·   Pelopori terbentuknya LSM pengontrol penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
·   Ambil waktu kongkow-kongkow dengan pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat desa.
·   Salah satu upaya pemberantasan KKN adalah dengan mempertinggi pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di semua tingkatan.
·   Melakukan kritikan/protes melalui surat resmi, bukan surat kaleng, terbukti ampuh.
·   Ingat! Kritikan/protes yang ditembuskan ke camat atau bupati justru akan memperpanjang rantai masalah.
·   Pengontrolan secara melembaga biasanya lebih kuat pengaruhnya.

Perekonomian Desa
·   Sokong penuh gerakan sadar pajak.
·   Berdayakan aset-aset desa yang tidak termanfaatkan oleh pemerintah. Misalnya, bila ada lahan-lahan tidur milik desa, ajukan permohonan izin pinjam pakai oleh Pemuda Gereja.
·   Dokumentasikan potensi-potensi desa, mis.  pertanian, perikanan, kehutanan, pertambangan, maupun pariwisata, dll, dan ceritakanlah itu dimanapun kita berada di luar desa kita.
·   Pajak adalah salah satu sumber pendapatan desa.
·   Kebangkitan perekonomian desa salah satunya dimulai dari promosi potensi desa.

KamTibMas
·   Tingkatkan intensitas komunikasi internal pemuda jemaat, dimulai dari tingkat antar kolom, hingga antar desa.
·   Hindari jebakan miras, obat-obat terlarang dan seks bebas.
·   Jangan mudah terpancing, hindari perkelahian.
·   Keamanan dan ketertiban masyarakat adalah modal dasar otonomi daerah.


Tabel “Strategi Pelayanan” ini hanya merupakan pedoman umum yang masih harus dikembangkan dalam tataran praktis, karena kita akui bersama bahwa masih banyak hal, bahkan terlalu banyak, yang harus dilakoni oleh Pemuda Gereja dalam rangka menjalankan tugas pelayanan gereja kepada masyarakat.

Penutup

Berbagai usaha Pemuda Gereja dalam menerapkan strategi pelayanan di tengah jemaat akhirnya juga ditentukan oleh “keinginan yang kuat” dari individu-individu pemuda itu sendiri. Berbagai konsep, teori, pedoman, dan pertunjuk pelaksanaan, sangatlah tidak cukup, bahkan menjadi tidak berguna , apabila Pemuda Gereja tidak punya kehendak dan niat berlandaskan Iman Kristiani, untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai proses implementasi Otda.
Akhirnya, tujuan mulia pelayanan Pemuda Gereja, harus dimulai dari dalam lingkup wilayah kita sendiri, untuk selanjutnya berkembang semakin luas sesuai tuntunan Roh Kudus. Mari kita melakukan yang terbaik, meskipun  belum sempurna, dan biarkan Kristus yang menyempurnakannya. 
Oleh Andry Harits Umboh dengan beberapa perubahan